Lessons learnt from Epstein Scandal

Terkini

Berita Dunia

Politik

Ekonomi

Hukum

Metropolitan

Gaya Hidup

Olahraga

Sepakbola

Zohran Mamdani Semakin Tidak Tunduk Pada Nalar Politik yang Biasa-biasa Saja


Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*


Sejak terpilih dan dilantik sebagai Walikota New York, kota dunia, rumah bagi PBB dan Wall Street, Zohran Mamdani semakin menunjukkan bahwa ia tidak tunduk pada nalar politik yang biasa-biasa saja. Saya menyebutnya Walikota yang aneh. Karena tidak biasa, maka ia menjadi luar biasa. Karena aneh, maka ia berbeda dari fenomena politik pada umumnya.


Banyak hal yang bisa saya kemukakan untuk membuktikan ke-luarbiasa-an itu. Tapi kali ini saya ingin menggarisbawahi dua hal saja, karena keduanya sangat paradoks dengan realita dunia politik kita saat ini, khususnya dalam konteks New York dan Amerika.


Menolak Kenaikan Gaji


Baru-baru ini New York City Council (DPRD Kota New York) mengusulkan resolusi untuk menaikkan gaji pegawai kota sebesar 18%, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilakukan. Alasannya masuk akal: sangat tidak adil jika biaya hidup naik berlipat ganda, sementara gaji pegawai kota tidak pernah disesuaikan.


Rencana itu mendapat dukungan hampir bulat dari anggota Dewan. Jajak pendapat pun menunjukkan warga New York tidak keberatan. Mereka paham betul betapa kecilnya gaji pegawai kota dibanding mahalnya biaya hidup di kota ini.


Namun yang mengejutkan, justru Walikota Zohran Mamdani yang menolak.


Ketika ditanya alasannya, ia menjawab dengan kalimat yang membuat semua terkagum: “Saya berkeliling ke seluruh sudut kota ini, dan belum pernah saya mendengar keluhan bahwa gaji Walikota tidak cukup. Yang justru saya dengar setiap hari adalah keluhan warga bahwa penghasilan mereka jauh dari cukup. Karena itu fokus saya adalah menaikkan pendapatan warga, bukan pendapatan Walikota.”


Seketika warga New York semakin kagum dan jatuh hati. Seorang Walikota muda, yang sebelum menjabat hanya tinggal di apartemen satu kamar bersama istrinya, menolak kenaikan gaji bahkan ketika itu datang melalui prosedur yang sepenuhnya legal.


Kota New York dan Penjahat Perang


Walaupun tidak pernah menjadi janji kampanye, prinsip dasar Zohran Mamdani tentang penegakan hukum tanpa pandang bulu memunculkan satu sikap yang paling kontroversial: kemungkinan penangkapan PM Israel Benjamin Netanyahu jika menginjakkan kaki di New York.


Dalam berbagai wawancara, termasuk dengan CNN, Zohran menegaskan: “Jika ada dasar hukum untuk menangkap Netanyahu, saya akan perintahkan NYPD untuk menangkapnya.”


Pernyataan ini langsung menjadi perdebatan nasional. Di mata banyak politisi, pengamat, dan akademisi Amerika, pernyataan semacam ini dianggap tabu, bahkan bunuh diri politik. Tapi Zohran menyampaikannya dengan gagah berani.


Dan ia menegaskan, ini bukan penilaian pribadi. Ini berdasarkan fakta hukum internasional yang telah menetapkan Netanyahu sebagai penjahat perang, dengan perintah penangkapan dari ICC (International Criminal Court) dan ICJ (International Court of Justice).


Tentu dilemanya tidak kecil. Pertama, ada ganjalan legal: Amerika Serikat bukan penandatangan Statuta Roma, sehingga tidak terikat secara hukum untuk melaksanakan perintah ICC dan ICJ. Kedua, jika Netanyahu datang ke New York atas undangan PBB, ia mendapatkan jaminan kekebalan diplomatik dan keamanan.


Terlepas dari kerumitan itu, keberanian Zohran untuk menyuarakan rencana tersebut patut diapresiasi. Apalagi kita tahu, di kota ini masih banyak pejabat berpengaruh yang berafiliasi dengan Zionisme, termasuk di jajaran Kepolisian New York dan Pimpinan DPRD Kota. Bahkan beberapa pejabat yang bekerja langsung di bawah Mamdani pun dicurigai memiliki tendensi pro-Zionis Israel.


Aneh dan Luar Biasa


Dua hal di atas membawa saya pada satu kesimpulan: Zohran Mamdani memang Walikota yang aneh.


Aneh, karena di saat banyak politisi menggunakan setiap kesempatan, baik di waktu lapang maupun sempit untuk memperkaya diri dan keluarga, Zohran justru menolak kenaikan gajinya sendiri, padahal jalannya sepenuhnya legal. Berbanding terbalik dengan pejabat di banyak tempat lain, di mana jabatan dijadikan ladang untuk memperkaya diri, keluarga, kerabat, dan kroni, bahkan dengan memberikan posisi tanpa melihat kapasitas.


Dan ia luar biasa karena berani melawan arus dengan keyakinan penuh bahwa kebenaran dan keadilan adalah fondasi moralitas dan integritas jabatan. Di sebuah kota yang sangat kuat dikontrol oleh lobi Zionis, ia berani menyatakan akan menangkap Perdana Menteri negara penjajah.


Akhirnya, mari kita doakan Walikota tercinta kita, saudara kita Zohran Mamdani, semoga selalu diberi petunjuk dari langit, dikuatkan dalam mengambil langkah-langkah untuk kebaikan Kota New York dan warganya, dan yang paling penting, dijaga dari segala ancaman dan bahaya dari mereka yang berniat buruk. Amin!


Manhattan, 21 Juli 2026


*A Proud New Yorker

 Indahnya Hidup Dengan Tawakkal


Subuh ini setelah Subuhan di Masjid saya membaca menyampaikan kajian Buku Riyadhus Salihin oleh imam An-Nawawi. Kebetulan kajian kami telah memasuki Bab Tawakkal. Sebuah konsep yang mendasar dalam agama kita, yang seringkali dipahami secara kurang proporsonal oleh sebagian orang.


Tawakkal itu bukan apatisme. Tapi memiliki tiga komponen penting yang tak terpisahkan. Ikhtiar, yaitu berusaha terbaik dengan penuh kesungguhan. Tafwiidh, yaitu menyerahkan sepenuh  hati hasil akhir dari ikhtiar kepada Allah. Dan ridho, yaitu menerima hasil akhir itu dengan hati yang lapang dan tenang. 


Tawakkal Pintu Ketenangan Hidup 


Kita sadar jika ada momen kita lelah, bahkan terasa kehilangan harapan, dalam menentukan arah kehidupan sesuai keinginan. Kita sudah berusaha, berdoa, merancang, tetapi hasilnya tetap di luar harapan. Di sinilah harus sadar jika tanggung jawab kita adalah berusaha maksimal dan terbaik. Sedangkan hasil akhir adalah wilayah Kekuasaan Allah. Menyerahkan urusan kepadaNya bukan apatisme, lemah apalagi putus asa.  Tapi sadar akan kelemahan dan keterbatasan, dan berhenti memaksa arah kehidupan sesuai kehendak kita.


Saat ketika kita mencapai fase: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah”, sebagaimana diajarkan Al-Quran, kita sesungguhnya berada di tataran tertinggi kemenangan dan ketenangan hidup. Kita tetap berusaha, terus berjuang dengan itqan, namun tidak menggantungkan hasil akhir kepada ikhtiyar dan diri sendiri, tapi kepada Pemilik dan Penguasa kehidupan.


Kesuksesan sejati bukan karena semua yang kita inginkan terwujud sebagaimana kita inginkan. Tetapi ketika sesuatu yang kita inginkan disikapi dengan ridho dalam Kuasa Allah. Berhasil atau belum seharusnya tidak merampas ketenangan hati. Pada titik inilah kesulitan dan kegagalan berubah menjadi pelajaran dan ketenangan.


Mari berikhtiar dengan tangan, berdoa dengan lisan, lalu berserah dengan hati. Mungkin saja badai belum reda, masalah belum selesai, tetapi jiwa tetap tenang karena tahu kepada siapa semua urusan diserahkan. Itulah kemenangan yang terindah. In-shaa-Allah! 


(Shamsi Ali Al-Nuyorki)

 Ketika Allah Hadir Membersamaimu


"Jika Allah bersamaku, maka aku tak kehilangan apa pun. Jika Allah meninggalkanku, maka aku tak memiliki apa pun dan kehilangan segalanya."


Ada nilai hidup yg tak terukur dengan ukuran material, tingkat jabatan, atau kuatnya pengaruh. Semua itu bisa datang dan bisa pergi setiap saat. Namun ada satu hal yang menjadi ukuran segalanya: hadirnya Allah dalam hidup.


Di saat Allah hadir membersamai seorang hamba dengan kasih sayang, hidayah, dan pertolongan-Nya, maka kehilangan berubah menjadi pelajaran dan nilai, kesempitan menjadi kelapangan, bahkan kesedihan berubah menjadi benih kebahagiaan.


Kehadiran Allah dalam hidup kita  membebaskan hati dari ketergantungan kepada makhluk. Manusia boleh jadi mengecewakan, dunia boleh berubah, dan harapan boleh tertunda. Tapi Allah tak pernah menyia-nyiakan hambaNya yang yakin dan penuh tawakkal. Hati yang mengenal Rabb-nya tak mudah rapuh, karena sandarannya adalah Zat Yang Maha hidup dan tak pernah lalai.


Hidup dalam kebersamaan dengan Allah  bukan hidup tanpa ujian, melainkan keyakinan bahwa setiap ujian berada dalam genggaman Dia yang menguasai dan mengontrol segalanya. Di saat pintu-pintu dunia terasa tertutup, seorang mukmin tetap melihat satu pintu yang selalu terbuka: pintu doa, sujud, dan tawakal. Akan lahir ketenangan yang tak  dapat dibeli oleh apa pun.


Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga kehilangan Allah. Sebab siapa yg menemukan Allah, ia telah menemukan hal yang paling berharga. Siapa yang kehilangan Allah dari hatinya, meski menggenggam seluruh dunia, sungguh ia hidup dalam kemiskinan yang paling sunyi. Kebahagiaan sejati bukanlah memiliki yang banyak, tetapi memiliki Allah yang mencintai-Nya. 


Jamaica Hills, 9 Agustus 2926 


(Shamsi Ali Al-Nuyorki).

Dialog Lintas Iman di Masjid, Imam Shamsi Ali Luruskan Kesalahpahaman Barat tentang Islam
 Imam Shamsi Ali


 - Ulama asal Sulawesi yang kini aktif berdakwah di Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali, kembali menuai apresiasi publik. Kali ini, ia menjadi pembicara dalam sebuah dialog lintas iman bersama sekelompok pemuda Kristen di sebuah masjid.


Momen hangat tersebut dibagikan oleh akun Instagram *@rasulamin__*. Dalam unggahannya, ia menceritakan bahwa kelompok pemuda Kristen tersebut memiliki program khusus untuk mengunjungi berbagai rumah ibadah. 


Tujuan kunjungan ini, menurut *@rasulamin__*, bukanlah untuk berdebat. Melainkan untuk mempelajari agama lain, berdialog secara langsung dengan para pemeluknya, membangun pemahaman, menghilangkan prasangka, serta memperkuat sikap saling menghormati di tengah masyarakat yang beragam.


"Pada kesempatan ini, kami membahas beberapa hal tentang Islam yang sering disalahpahami di dunia Barat. Kami bersyukur dapat memperkenalkan ajaran Islam secara langsung melalui dialog yang terbuka dan penuh rasa hormat," tulis *@rasulamin__* dalam unggahannya.


Kehadiran Imam Shamsi Ali, yang disebut sebagai "guru kami dari Indonesia, putra Sulawesi", menjadi daya tarik tersendiri. Ia dinilai mampu menyampaikan keindahan ajaran Islam dengan berbekal ilmu, hikmah, dan akhlak yang baik.


### Soroti Kedudukan Perempuan dalam Islam


Berdasarkan respons warganet di kolom komentar, salah satu bahasan yang paling menonjol dalam dialog tersebut adalah kedudukan dan pemuliaan perempuan dalam ajaran Islam. Hal ini menjadi salah satu topik yang kerap disalahpahami oleh masyarakat Barat.


Penyampaian Imam Shamsi Ali yang tenang, lugas, dan mudah dipahami mendapat pujian dari para warganet. Banyak yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai Islam, yang selama ini kerap terdistorsi oleh narasi negatif.


"Dakwahnya *smooth*, cakep banget," tulis salah satu warganet menanggapi gaya bicara Imam Shamsi Ali.


Warganet lain turut menyoroti pentingnya dialog terbuka untuk melawan stigma. "Itulah mengapa banyak orang salah paham tentang Islam, karena propaganda yang mengerikan itu," komentar seorang warganet lainnya.


Sejumlah warganet juga turut menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan perempuan dan mengangkat derajatnya. Mereka berharap agar dialog-dialog damai semacam ini dapat dikemas dalam bentuk *podcast* atau konten yang lebih luas di YouTube agar dapat ditonton dan mengedukasi masyarakat umum.


Unggahan ini ditutup dengan harapan agar interaksi lintas iman yang penuh rasa hormat dapat terus menjadi jalan lahirnya saling pengertian dan perdamaian di tengah keberagaman.

 Kemenangan Abdul El-Sayed Adalah Kemenangan Perubahan


Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*


Saya telah beberapa kali menyampaikan bahwa Amerika Serikat saat ini sedang mengalami transformasi politik yang sangat besar. Perubahan itu nyata. Ia terlihat dari kemenangan sejumlah kandidat politik yang secara terbuka berani melawan arus status quo yang selama ini mencengkeram politik Amerika, sebuah status quo yang dikendalikan oleh lobi-lobi politik seperti AIPAC, lobi Zionis Israel, dan kepentingan para kapitalis.


Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan, dan tentu saja kemenangan fenomenal Zohran Mamdani di New York, adalah bukti paling nyata bahwa transformasi politik itu bukan ilusi. Belum lagi kemenangan beberapa kandidat lain, termasuk tiga calon anggota Kongres yang didukung oleh Zohran Mamdani di Kota New York. Maka benar jika saya katakan: perubahan itu pasti.


Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa transformasi ini bisa terjadi? Padahal politik Amerika begitu kuat terbelenggu oleh kepentingan segelintir pemilik modal dan kekuatan lobi. Terutama jika kita bicara tentang lobi Zionis Israel yang hingga hari ini masih mengendalikan kebijakan luar negeri Amerika di berbagai belahan dunia. Pengaruh yang tidak tanggung-tanggung ini justru membuat Amerika semakin terisolasi dan dirugikan.


Ada banyak faktor yang mendorong perubahan ini. Saya akan menyebut beberapa yang paling tampak dan relevan dengan situasi Amerika dan dunia saat ini. Sebagian bersifat eksternal, sebagian lainnya internal.


1. Kerinduan Akan Perubahan


Perubahan adalah karakter alami semesta. Segala sesuatu berubah, kecuali Sang Pencipta semesta itu sendiri. Maka ketika terjadi stagnasi, bahkan dalam kondisi yang terlihat positif, akan tiba masanya perubahan itu datang. Tidak heran jika Tuhan memberikan ujian dari masa ke masa. Ujian itu sendiri bisa menjadi pintu menuju perubahan.


Masyarakat Amerika pun demikian. Bangsa ini telah lama mengalami stagnasi politik dan berjalan di tempat. Mereka terlalu lama berada dalam zona nyaman stabilitas politik. Demokrasi seolah masih berjalan, keseimbangan kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif masih terlihat, dan rakyat masih merasa memiliki otoritas untuk mengontrol kekuasaan. Rasa aman yang “taken for granted” inilah yang justru menjadi celah masuknya parasit politik yang berbahaya: lobi Zionis dan kapitalis.


Lambat laun, penetrasi itu semakin nyata dan terasa. Koreksi masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang bertentangan dengan Konstitusi dan nurani manusia diabaikan oleh penguasa. Kegerahan pun tumbuh. Namun kegerahan itu terus dibungkam oleh permainan lobi Zionis dan kepentingan kapitalis. Inilah yang membuat masyarakat semakin gerah dan mendambakan perubahan, meskipun pintu menuju perubahan itu terasa terkunci rapat oleh kekuatan uang.


2. Genosida Gaza dan Kebangkitan Nurani Manusia


Kerinduan akan perubahan itu akhirnya menemukan momentumnya, atau mungkin lebih tepat disebut afirmasinya, melalui peristiwa pembantaian dan genosida di Gaza. Kekejaman penjajah Zionis Israel di Gaza, di era keterbukaan media, khususnya media sosial, tidak lagi bisa ditutupi dan dimanipulasi. Selama ini masyarakat Amerika tertipu oleh media arus utama yang masih dikontrol oleh pemilik kepentingan yang sama.


Realita kekejaman Israel di Palestina, khususnya di Gaza, telah menyingkap nurani kemanusiaan bangsa Amerika. Nurani yang selama ini dibutakan oleh politisi-politisi yang terbeli oleh AIPAC dan oleh media, akhirnya tersentuh oleh kezaliman Zionis terhadap bangsa Palestina. Hal ini terlihat sangat nyata pada pemilihan Wali Kota New York, di mana Zohran Mamdani mendapat dukungan luar biasa dari kaum muda, bahkan dari kalangan warga Yahudi sendiri.


Kekejaman Zionis dan penderitaan warga Gaza tidak hanya menyentuh warga biasa, tapi juga menyadarkan sebagian politisi. Kita melihatnya pada perubahan di Kongres baru-baru ini, di mana lebih dari 100 anggota Kongres mendukung penghentian bantuan militer tanpa syarat untuk Israel. Hal ini kemudian menjadi tren di kalangan calon-calon politik yang semakin berani memisahkan diri dari AIPAC dan oligarki.


3. Kegagalan Kebijakan Pemerintah Amerika


Faktor lain yang mempercepat proses perubahan adalah kebijakan pemerintah Amerika sendiri, baik dari Partai Demokrat maupun Republik. Kekalahan Demokrat yang diwakili Kamala Harris dari Republik yang diwakili Donald Trump salah satunya disebabkan oleh kebijakan buruk Presiden Biden dalam menyikapi genosida di Gaza. Presiden Biden yang mengaku sebagai Zionis Katolik memiliki andil besar dalam genosida yang terjadi di Gaza.


Walaupun masyarakat Amerika tahu siapa Donald Trump, harapan akan perubahan begitu besar sehingga mereka tetap memilihnya. Namun harapan itu pun sirna. Apa yang dilakukan Donald Trump secara kasat mata mungkin tidak terlihat sekejam yang terjadi di era Biden, tapi secara substansi dukungannya terhadap kekejaman Zionis justru lebih parah. Karena Trump memberikan dukungan penuh kepada Israel untuk mewujudkan mimpi mereka: Israel Raya. Hal ini terwujud dalam berbagai kebijakannya, termasuk serangan terhadap Iran.


Intinya, kebijakan zalim pemerintah Amerika, baik di bawah Demokrat maupun Republik, justru menjadi pemicu percepatan perubahan politik di Amerika. Di internal Demokrat sendiri, saat ini sekitar 60% mulai beralih ke apa yang dikenal sebagai “Democratic Socialist”. Salah satu figur terpopulernya hari ini adalah Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Abdul El-Sayed sendiri mengaku bukan Democratic Socialist, tetapi pandangan-pandangannya sejalan dan didukung penuh oleh Bernie Sanders, yang dikenal sebagai guru dari gerakan democratic socialist.


4. Peran dan Inspirasi Zohran Mamdani


Namun yang pasti, kita tidak akan melupakan peran dan inspirasi politik yang dimainkan oleh Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Saya tidak perlu mengulang semua hal luar biasa dari Zohran yang telah menginspirasi perubahan lanskap politik Amerika. Cukup dua hal: identitasnya sebagai seorang Muslim dan sikapnya yang tegas terhadap genosida di Gaza.


Dua hal itu telah membuka mata masyarakat Amerika yang selama ini terbuai dalam zona nyaman. Masyarakat disadarkan oleh Zohran bahwa di tengah rasa aman dan nyaman itu ada sesuatu yang salah secara fundamental. Karena itu dibutuhkan keberanian dan konsistensi untuk mengubahnya. Dan keberanian itulah yang mengantarkan Zohran pada kemenangan, dan juga kemenangan bagi mereka yang mengikuti jejaknya.


Penutup


Amerika sedang mengalami perubahan besar-besaran. Mungkin hasilnya belum terlihat seratus persen hari ini. Karena saat ini, baik di legislatif maupun eksekutif, masih didominasi oleh mereka yang telah tergadaikan oleh lobi dan kepentingan Zionis dan kapitalis. Namun dengan kemenangan Zohran di Kota New York, Abdul di Michigan, dan kandidat-kandidat lainnya, terbukti bahwa Amerika memang sedang berada dalam proses transformasi politik yang nyata. Doakan!


*A Proud New Yorker Al-Kajangi